Dalam Uang Kita Bersaudara?
Oleh : Yersi U. P. Weo
(Anggota
Komunitas Akar Rumput NTT)
Politik
semakin jauh dari ideal. Segala keterbelakangan, ketimpangan sosial ekonomi,
segala kemelaratan tidak menjadi agenda kontestasi Pilkada. Rentetan Pilkada dalam
beberapa tahun belakangan hingga kini menjelma menjadi pertunjukan perjudian
orang-orang berduit. Adu gagasan hanya menjadi
semacam ritual tanpa makna karena gagasan pun bisa dibeli dengan duit. Mulai dari
ibu kota negara hingga pelosok republik yang kita dengar hanyalah debat-debat tim
sukses akar rumput yang berbicara si A punya sekian puluh M atau si B dengan sekian
ratus M yang akan ‘membeli putus’ suara rakyat.
Persepsi
akar rumput tentang politik pun berubah dari politik yang konotatif dengan tipu-tipu
menjadi identik dengan adu Rupiah. Dari Ibu Kota yang kita pelajari adalah
‘dalam uang kita bersaudara’. Perbedaan ras, agama, golongan menjadi terjembatani
dengan uang. Visi dan praktek politik berubah wajah dalam bentuk pragmatis dan oportunistik radikal.
Dunia
politik kemudian semakin dipersepsikan sebagai wilayah kotor, penuh intrik dan perbuatan
licik yang dengan uang mencapai tujuan dengan menghalalkan segala cara, sangat berorientasi
pada kepentingan kelompok modal sehingga dalam ranah tersebut yang dikenal adalah
strategi eksploitasi abadi.
Dalam
kapitalisme pasar yang dianut saat ini, akar rumput juga sibuk berdebat menghitung
modal politik si A atau si B yang berasal dari keluarga feodal atau pun pejabat
yang baru menjual tanah sekian puluh milyar sebagai modal kontestasi politik.
Pelajaran
dari gelanggang politik saat ini memperlemah sendi-sendi demokrasi akar rumput.
Rakyat dalam kemeleratan dan kemiskinannya sibuk berdebat soal berapa besar uang
yang dipunya si A dan si B. Dan seolah-olah paling besar uangnya yang akan menentukan
kesuksesan memimpin kedepan.
Tentu,
bicara tentang pertarungan politik tidak bisa dipisahkan dari biaya
politik. Tetapi bertarung secara all-out dengan meniscayakan money politic membuat politik kehilangan
makna.
NTT Yang Berjalan di Tempat
NTT membutuhkan perubahan. Banyak calon berkualitas menghendaki
perubahan tetapi tanpa kekuatan dana. Di satu pihak, kemiskinan dan ketimpangan
menyulitkan aksi kolektif. Kelas menengah yang terbentuk dalam satu dekade
terakhir tidak mampu menyatukan diri dalam sebuah jejaring ideologis yang bisa dimobilisasikan.
Situasi ini disenangi para pedagang politik yang mengusai atau mampu membayar partai
politik.
Banyak orang muda menjadi jenuh dan jengkel dengan realitas
nyata berpolitik yang tenggelam dalam urusan masing-masing dan tidak mau campur
dalam urusan politik. Seolah-olah mengorbankan waktu bersama-sama dalam sebuah gerakan
perubahan adalah kesia-siaan.
Pada dasarnya manusia adalah makhuk yang relational dan
resiprokal (timbal balik). Dalam konteks politik borjuasi kondisi ini
tampak nyata dan lebih mudah mengajak orang terlibat didalamnya, dengan imbalan
jabatan, uang, proyek dan sebagainya ketimbang mengajak orang berjuang bersama demi
kehidupan bersama yang lebih baik.
Esensi politik yang adalah etika melayani dan memperjuangkan
ketidakadilan. Tetapi yang menjadi perubahan radikal saat ini terjadi pada kualitas
pertanyaan akar rumput soal pilkada.
Akar rumput kita tidak lagi bertanya ”apa cita-cita besar
si politisi?, atau ”kenapa katong harus dukung dia, programnya apa? ”agenda
perubahannya seperti apa?” Realitasnya menjadi terbalik: politik semakin mengawinkan
primordialisme (“dia orang (suku) apa? dia agama apa?) dengan uang (Dia kuat ko?,
dia modal berapa?).
Demokrasi dapat berjalan baik jika ada rasa tanggung jawab.
Agenda pendidikan politik terhadap warga akar rumput mandek total. Perginya
para donor internasional membuat masyarakat sipil kelimpungan sumberdaya dan
menjadikan para aktivis berlindung di bawah ketiak pemodal yang setiap waktu agresif
menyandra pesta-pesta demokrasi yang mahal ini menjadi kemenangan modal.
Kembalikanlah politik yang pada hekekatnya adalah partisipasi
warga yang dengan kesadaran diikut sertakan dalam sebuah proses politik dan
dalam membangun sebuah sistem demi kesejahteraan bersama. Menjadikan rakyat sebagai
pusat dari semua kontestasi politik yang dibasiskan pada kontestasi agenda
demokrasi ekonomi. Jangan membiarkan kontestasi politik menjadi kontestasi
modal.
Politik adalah pertempuran antara keyakinan (ideologi)
yang kemudian berwujud dalam kebijakan publik dan kebijakan publik pada dasarnya
keluar dari sebuah keyakinan. Tentu, berpolitik itu belajar dan melakukan (learning
by doing) ketika kita mengkritisi kita juga harus mengambil tanggung jawab didalamnya
disisi lain juga harus membangun basis massa yang melek terhadap apa esensi
dari politik. Kita harus menarik berbagai macam kesimpulan dan menjadi pemain aktif
dalam berpolitik.
Media dan masyarakat sipil dan kita (rakyat) tidak hanya sekedar
datang mencoblos dan memberikan pilihan pada masa pemilihan tiba, tetapi harus secara
aktif menyatakan apa yang ingin di lakukan, apa yang kita (rakyat) ingin dengan
daerah ini; bagaimana pemenang kontestasi pilkada mengelola sumberdaya kita dengan
melibatkan warga secara aktif?
Karena kita akan masuk dalam pesta demokrasi dimana rakyat
akan memilih siapa pemimpinnya lima (5) tahun kedepan, dengan sebuah kesadaran
“Politik” memilih dengan pilihannya sendiri atau memilih dengan keterpaksaan? Money
politik adalah bentuk politik yang penuh keterpaksaan (coersive).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar